3 [Book Review]

3 tiga.indd

“Selama seseorang masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, dia tidak akan bunuh diri. Kecuali jika memang bunuh diri adalah satu-satunya cara mempertahankan apa yang dia perjuangkan.”

Kalimat Hashimoto Chihiro membekas di kepala Nakamura Chidori, bahkan setelah perempuan itu bunuh diri. Apa sebenarnya yang mengubah pandangan hidup Hashimoto sampai dia mengakhiri hidupnya? Mungkinkah karena Nakamura tidak pernah menepati janjinya? Mungkinkah karena Nakamura menyimpan perasaan kepada Sakamoto, yang seharusnya merupakan sahabat mereka?

Setelah tujuh tahun tidak bertemu, Nakamura harus kembali berhadapan dengan masa lalunya. Di antara memori akan persahabatan, janji yang diingkari, impian, dan cinta yang tak berbalas, tersembunyi alasan kepergian Hashimoto yang sebenarnya.

Awalnya saya agak skeptis sebelum membaca buku ini karena sejujurnya saya biasanya kurang tertarik dengan buku-buku yang berbau Jepang & Korea. Walaupun kenyataannya saya masih lumayan sering membaca buku yang berbau-bau Jepang. Tapi setelah saya membaca buku ini, semua perhatian saya rasanya terpusat di ceritanya yang super galau. Pertama kali menyelesaikan buku ini, saya merasa sangat lega, karena akhirnya selesai juga masa galau-galaunya. Kedua kali saya membaca buku ini, rasanya saya pengen ikutan Chihiro terjun dari atap gedung saking galaunya. Saya rasa kutipan dari buku Kyland sangat cocok untuk menggambarkan perasaan saya ttg 3.

One of the bleakest books I’ve ever read, offering no hope whatsoever. Made me want to throw myself off the nearest cliff. – KB

Jadi buku ini sebenarnya bercerita tentang kehidupan Nakamura dan Sakamoto setelah sahabat baik mereka yang bernama Hashimoto Chihiro meninggal. Kematian Chihiro meninggalkan banyak tanda tanya bagi kedua sahabatnya. Cerita pun bergulir tentang bagaimana Nakamura yang walaupun sudah memutuskan hubungan dengan Chihiro bertahun-tahun lamanya, namun masih sangat terpukul dengan kematian Chihiro. Berawal dari angka 3 yang digoreskan dengan lipstik merah di TKP, Nakamura mencoba mencari tahu alasan kematian Chihiro. Sakamoto berusaha menjaga Nakamura dengan mengijinkannya tinggal di rumahnya. Nakamura mulai dihantui oleh bayangan Hashimoto. Sampai pada suatu hari, Nakamura memutuskan untuk mengunjungi apartemen Hashimoto dan disitulah ia berhasil menemukan jawabannya.

Secara keseluruhan bisa dibilang buku ini galau banget. Nakamura terkesan sangat despo dengan kehidupannya yang berantakan ditambah rasa bersalah yang dipikulnya dengan kematian Hashimoto. Bagian flashback ke masa-masa SMA & kuliah sebelum mereka akhirnya berpisah menurut saya yang paling galau. Kegalauan juga ditambah dengan kenyataan bahwa selama ini Nakamura memendam perasaan terhadap Sakamoto. Disamping sisi galaunya, buku ini juga bercerita tentang impian ketiga sahabat ini yang cukup mulia. Mereka ingin mendirikan panti asuhan untuk anak-anak yatim piatu karena Sakamoto & Hashimoto sendiri merupakan yatim piatu.

Intinya, buku ini cukup sukses membuat saya merasa galau. Dapet banget sih feelingnya & pembangunan suasananya juga sangat mendukung. Untuk ceritanya yang fantastis, saya sematkan 3.5 bintang *terjun dari tebing virtual*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s