Singapore Begins [Book Review]

sgbegins4stars

“Tepparapol Goptanisagorn.”

“Hah?” ujar Kanna spontan tanpa dia sadari.

“Namaku. Tepparapol Goptanisagorn,” sang cowok mengulangi, kali ini dengan sedikit lebih lambat.

Kanna mengerjap. Tep… teppa… Gopta… “Apa?”

Kanna tahu dia bukan anak kesayangan Mama-Papa, tapi dibuang ke Singapura tidak pernah ada dalam rencana hidupnya. Namun apa boleh buat, hasil tes kepribadiannya yang minus membuat keputusan orangtuanya tak dapat diganggu gugat. Dan di sinilah Kanna akan tinggal sekarang, di sebuah rumah kos bersama empat orang lainnya dari empat negara berbeda pula. Baru saja menginjakkan kaki di sana, Kanna sudah disambut oleh ibu kos superheboh. Dia juga harus berbagi kamar dengan gadis bule yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengannya. Oh, dan suara tangisan siapa itu dari lantai dua? Cuma setahun, sih, tapi bagaimana cara Kanna bertahan kalau menyebutkan nama salah satu housemate-nya saja sudah begitu sulit?

Dari semua novel YARN yang sudah saya baca, novel ini favorit saya. Soalnya yang lain rata-rata masalahnya berat & agak suram, tapi hanya novel ini yang menyuguhkan masalah berat disertai dengan adegan lucu & dialog yang kocak.

Menurut psikotes yang diambil Kanna, disimpulkan bahwa ia adalah anak yang dingin, tidak mudah percaya orang lain & terlalu mandiri. Jadi orangtuanya memutuskan untuk mengirim Kanna ke negeri singa untuk mengambil diploma selama setahun. Sesampainya disana, Kanna dikejutkan dengan fakta bahwa ia harus tinggal serumah dengan 5 orang asing serta Tantenya Cantika yang ngotot dipanggil Kakak. Kanna yang suka menyendiri kontan merasa kesal dengan keadaan tsb. Ia malah harus berbagi kamar dengan bule centil bernama Sally.

Setelah tinggal selama beberapa bulan, Kanna mulai mengetahui sifat asli teman serumahnya. G yang berperawakan tinggi besar ternyata sangat lebay & melankolis; Paresh si anak kepala desa yang jahilnya minta ampun ternyata merasa tertekan dengan tuntutan ayahnya; Joon Hee, si cowok Korea ganteng yang menurutnya paling normal ternyata ‘kabur’ ke Singapura karena pernah dibully; Sally yang sangat ceriwis dan suka bergosip ternyata adalah produk broken home yang tidak mendapat perhatian dari kedua orangtuanya yang sudah memiliki keluarga masing-masing. Bahkan si kecil Mei Ling pun dititipkan ke Tante Cantika karena orangtuanya memiliki hutang dan harus bersembunyi.

Dari keempat temannya inilah Kanna belajar untuk membuka diri, untuk menyadari bahwa kita sebagai mahluk sosial membutuhkan mahluk lain untuk bertahan hidup. Saya suka melihat perubahan dalam diri Kanna. Dari yang skeptis & apatis, berubah mulai peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Ia bahkan bisa mengambil hati Mei Ling yang awalnya takut pada semua orang. Keputusannya untuk tidak membiarkan Joon Hee membalas perbuatan Gabriella kepadanya juga patut diacungkan jempol. Novel ini membuktikan kebenaran pepatah “don’t judge a book by its cover”, karena semua karakter dari tokoh-tokohnya sangat berbeda dengan penampilan luar mereka. Kanna yang terkesan dingin dan selalu memakai baju hitam, sebenarnya baik hati & hangat. Sally yang suka bergosip ternyata sangat pemaaf. Dan banyak lagi hal-hal lain yang bisa diambil pelajaran dari buku ini.

Oh iya, buku ini juga mengingatkan saya pada masa-masa sekolah. Kanna sangat beruntung memiliki teman dari berbagai negara yang berbeda. Sayangnya menurut saya buku ini kurang panjang, saya masih tertarik untuk membaca kisah Kanna dkk selanjutnya yang sepertinya baru dimulai.

Untuk Singapore Begins yang berhasil membuat saya tertawa terpingkal-pingkal, saya sematkan 4 bintang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s