Muara Rasa [Book Review]

muararasa3.5stars

“Karen mau datang, dia ingin kenalan sama kalian.”

“Karen? Siapa lagi?” Ravi mengerutkan kening.

“Pacarnya Val,” jawab Flo sembari tersenyum.

Tapi Ravi dapat membaca pedih di balik senyuman itu.

Ketika liburan semester dimulai, Flo dan Ravi yang kuliah di luar kota pulang ke rumah mereka di Surabaya untuk berkumpul lagi dengan sahabat mereka, Val. Tapi “pulang” tidaklah selalu menyenangkan. Terutama jika ada banyak rasa yang belum terungkap. Ravi diam-diam mencintai Flo, sementara Flo menyimpan rasa terhadap Val yang hanya menganggapnya sebagai adik kecil. Selama ini mereka selalu mengutamakan persahabatan di atas segala-galanya. Supaya mereka bisa selalu bersama. Supaya mereka tidak lagi mengalami kehilangan. Supaya mereka merasa berada di rumah. Namun setiap rasa pada akhirnya membutuhkan muara. Akhir dari perjalanan panjang. Akhir dari segala rasa sakit.

Kayaknya gw punya love-hate relationship sama si penulis. Di satu sisi, gw kesel karena si penulis selalu bikin cerita yang mengaduk emosi trus bikin gw berasa kena tipu. Tapi di sisi lain, gw belum nemu penulis yang berhasil bikin gw selalu berasa kena cheat sehabis membaca bukunya. Devania kembali dengan Muara Rasa yang (masih) memakai alur maju mundur.

Muara Rasa berkisah tentang 3 orang sahabat bernama Flo, Ravi dan Val. 3 Sahabat yang saling menguatkan. 3 orang yang merupakan ‘rumah’ bagi satu sama lain. Kisah hidup mereka awalnya merupakan kisah yang bahagia. Val dan Ravi yang bertetangga merupakan sahabat dari bayi. James, saudara kembar Ravi juga sangat dekat dengan Elvira, adik Val. Keceriaan mereka bertambah dengan kehadiran Flo sebagai tetangga baru mereka. Flo awalnya bersahabat dengan Elvira sebelum ia menjadi sahabat Ravi & Val.

Fast forward ke masa sekarang, Flo yang kuliah di Yogya sedang berlibur ke Surabaya. Ravi yang awalnya enggan untuk pulang ke kampung halaman memutuskan untuk segera kembali demi menemui Flo. Flo yang menyukai Val harus menahan sakit hatinya melihat Val bermesraan dengan pacar barunya, Karen. Dan Ravi harus kembali gigit jari melihat Flo yang sangat menyukai Val dan tidak pernah menyadari perasaannya.

Hubungan Ravi dengan Ayahnya yang kian memburuk merupakan alasan utama Ravi untuk menetap di Jakarta. Suatu malam, setelah ribut besar Ravi dihajar oleh ayahnya hingga harus dirawat di rumah sakit. Berkat kejadian itu, huubungan persahabatan mereka yang merenggang dengan kehadiran Karen pun kembali merekat.

Gw rasa emg si penulis ini jagonya bikin cerita galau & suram dengan karakter yang punya emotional baggage segede gunung. Flo, Ravi & Val masing-masing memiliki masa lalu yang kelam. Dan puncak dari cerita ini (yang sebenarnya masalah Ravi) adalah ketika Ravi dihajar ayahnya. Keluarga mereka kembali menjadi gunjingan tetangga sekitar.

Menurut gw, setelah berhasil ngaduk-aduk perasaan, penulis ga seharusnya nyelesaiin cerita dengan begitu aja. Akhir dari masalah Flo & Val mana? Flo masih belum bisa menerima kehadiran ayahnya. Val sendiri masih berusaha untuk tidak menganggap Flo sebagai pengganti Elvira. Terus masa endingnya cuma ‘gitu doang’????? Paling nggak ada kek salah satu dari mereka yang bahagia.

Buat ceritanya yang masih bikin gw kesel, 3.5* deh (iya ga rela buletin ke atas).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s